Kasus Darsem dan Peran Negara

KITA kini dihadapkan pada kasus pemerkosaan Darsem, 30. Kasus tindak kekerasan terhadap tenaga kerja perempuan di Arab Saudi itu telah menambah deretan panjang nasib me milukan pekerja Indonesia di negeri orang. Kasusnya menjadi sorotan dunia internasional karena Darsem binti Dawud Tawar, asal Subang, Jawa Barat, justru dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan di Riyadh menyusul pe ngakuan dia telah membunuh majikannya. Padahal, menurut pengakuan Darsem, dirinya terpaksa melakukan hal itu
untuk membela diri karena si ma jikan nyaris berhasil memer kosanya. Darsem dinyatakan terbukti bersalah membunuh majikannya, seorang warga Yaman, Desember 2007. Sidang penga
dilan di Riyadh pada 6 Mei 2009 memvonis hukuman pancung bagi
Darsem. Melalui kerja sama dengan pihak Lajnah Islah (Komisi Jasa Baik untuk Perdamaian dan Pemberian Maaf ) Riyadh dan pejabat Kantor Gubernur Riyadh, Darsem akhirnya mendapatkan pemaafan (tanazul) dari ahli waris korban. Pada 7 Januari 2011, ahli waris korban diwakili Asim bin Sali Assegaf bersedia memberikan tanazul kepada Darsem dengan kompensasi uang diyat (ganti
rugi/santunan) SAR 2 juta (Rp 4,7 miliar) yang harus diserahkan kepada ahli waris korban dalam jangka waktu enam bulan.
Pernyataan tanazul ter sebut telah disampaikan oleh KBRI ke pada Pengadilan Riyadh guna pemro sesan selanjutnya. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Gumelar di Jakarta Kamis (3/3) mengatakan bahwa uang tebusan
siap dibayarkan pemerintah bila upaya hukum naik banding yang sedang dilakukan menemui kegagalan. Saat ini, pemerintah masih menunggu keputusan banding yang bisa berlangsung hingga enam bulan ke depan. Tugas Perwakilan RI Kasus Darsem tersebut sekali lagi merupakan pelajaran sangat mahal bagi pemerintah. Kasus tindak kekerasan dan pelecehan hak asasi manusia (HAM) atas TKW harus diakhiri. Direktur eksekutif Migrant Care Anis Hidayah mengatakan, tindak kekerasan atas TKW hingga saat ini terbilang
marak. Ribuan orang TKW mengalami kekerasan pada 11 bulan terakhir. Menurut data Migrant Care, ada 5.636 TKW yang menghadapi kasus serius da lam 11 bulan. Perwakilan Indonesia di negara tujuan TKW harus benar-benar memantau proses hukum atas tindak penganiayaan yang dilakukan majikannya. Sebab, mereka berstatus sosial rendah, seperti pernah dialami Ceriyati, Siti Hajar, Nirmala Bonat, Sumiati, Kikim Ko malasari, dan Darsem. Di kebanyakan negara berkembang, hak-hak mereka yang berstatus sosial rendah begitu mudah diabaikan dalam proses hu kum. Perwakilan RI harus memastikan majikan pelaku tindak kekerasan men dapat hukuman setimpal dan tidak terjadi
impunitas terhadap mereka. Jika perlu, memanfaatkan media setempat untuk meliput proses hukum para majikan yang melakukan tindak kekerasan agar timbul efek jera bagi para majikan lain. Tiga Hal Penting Ketika kita mencermati kasus tindak
kekerasan tersebut, sedikitnya ada tiga hal utama yang harus menjadi perhatian pemerintah. Pertama, kasus tindak kekerasan TKW hendaknya menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi secara menyeluruh penempatan dan perlindungan buruh migran karena terbukti gagal memberikan perlindungan.
Kedua, evaluasi terhadap kinerja legislatif secara menyeluruh, baik pada tingkat legislasi, pengawasan, maupun anggaran. Pada 2010, revisi UU No 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri telah menjadi prioritas Pro legnas DPR. Namun, laporan kemajuan pembahasannya belum tampak sama sekali. Lemahnya kinerja DPR, hingga kini belum menyelesaikan draf legal. Ketiga, evaluasi terhadap kinerja kabinet, terutama menteri tenaga kerja dan menteri luar negeri. Terulangnya kembali kasus serupa bisa menjadi pertimbangan bagi Presiden SBY untuk mengevaluasi kinerja kabinetnya. Organisasi Internasional Pemerintah seharusnya menegosiasikan serta menyepakati perjanjian bilateral
dengan negara penerima TKW. Secara multilateral, ada perjanjian internasional yang melindungi para bu ruh migran, yaitu International Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Mem bers of Their Families (Konvensi Buruh Migran). Perlu juga melibatkan organisasi dunia yang memiliki perhatian besar terhadap masalah perlindungan pekerja migran dalam upaya perbaikan regulasi perlindungan TKW oleh pemerintah. Sebab, selama ini pengaturan per lindungan TKW harus tunduk pada peraturan ketenagakerjaan negara penerima
TKW. Organisasi dunia yang bisa dilibatkan dalam perlindungan TKW, antara lain, Organisasi Migran Internasional (International
Organization for Migration/IOM), Organisasi Buruh Internasional
(International Labor Organization/ ILO), dan United Nations Fund for Population Activity (UNFPA). Tiga organisasi dunia tadi memiliki jaringan kerja yang luas di Asia, Afrika, Amerika Latin, Eropa, dan Australia serta di percaya mampu melindungi TKW dunia. Bertindak Tegas Negara kita harus bersikap antisipatif, memiliki ketegasan, konsep penanggulangan yang jelas, konkret, dan keberanian agar bisa mengatasi berbagai kasus tindak kekerasan atau pelanggaran HAM yang menimpa TKW di negeri
orang. Negara jangan terkesan lembek dan tidak berani bertindak tegas terhadap negara-negara yang terdapat TKW dengan tindak kekerasan maupun pelanggaran HAM. Tugas dan fungsi negara mengatur dan menjamin kesejahteraan serta keselamatan yang menjadi hak setiap warga negara dari segala kejahatan, pelanggaran HAM, kebodohan, dan ke miskinan. Undang-Undang 1945 menyatakan bahwa negara ini adalah negara kesejahteraan (welfare sta te). Negara memiliki tugas dan kewajiban untuk menyejahterakan kehidupan warga negara. Salah satu implemenĀ  asinya memberikan peluang kerja seluasluasnya di negaranya sendiri. Tidak cukup dengan melontarkan pernyataan bahwa banyak TKW yang sukses seperti yang belakangan ini diucapkan Wapres Boediono. Saatnya negara memperbaiki diri dengan banyak belajar dari kasus kasus tindak kekerasan dan pelanggaran HAM terhadap TKW. (*)
*) Jawa pos Digital.

Tentang Maryudi

Saya adalah TKI , dan ingin berbuat sesuatu untuk negaraku INDONESIA
Pos ini dipublikasikan di Arab Saudi, Dalam Negeri. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s