Demi Hasni, 4 Tahun Puasa Senin-Kamis

SOLINDUN@KOMPAS.com – Rabiya (65), warga Kampung Glugur II, Desa Palengaan Laok, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, ternyata tidak mengetahui putranya Hasin Taufik bin Tasid (40) dan menantunya Sab’atun binti Jaulah (30) divonis hukuman potong tangan di Arab Saudi.

Rabiya hanya tahu putra dan menantunya itu sudah empat tahun ini mendekam di penjara Jeddah, di Arab Saudi karena tuduhan mencuri perhiasan emas di rumah majikannya.

Menurut Makbullah, adik Hasin, Rabiyah dan Sakdiyah (66) ibu Sab’atun sengaja tidak diberitahu tentang hukuman potong tangan itu. Makbullah dan keluarga lain khawatir hal itu bakal berdampak buruk pada kesehatan dua perempuan lanjut usia itu.

Mereka tidak ingin Rabiyah dan Sakdiyah mengalami nasib sama dengan Jaula, ayah Sab’atun, yang meninggal lantaran memikirkan nasib putri dan menantunya. “Satu bulan lalu, ayah mertua kakak Hasin meninggal dunia, setelah dilanda kecemasan stadium berat,” papar Makbullah.

Hasin dan Sab’atun segera menjalani eksekusi potong tangan karena sejak Jumat (17/6/2011) mereka telah masuk penjara bawah tanah pertanda segera dieksekusi.

Rabiya mengaku keluarganya sudah putus asa. “Saya bolak-balik tanya pada Makbul, kenapa nasib kakaknya tidak ada kejelasan dan kapan bebasnya. malah dijawab, sudah dipasrahkan kepada pemerintah. Tapi sampai kapan,” kata Rabiya, yang mengaku sudah seminggu kehilangan kontak dengan Hasin.

Pada 2009 lalu, Hasin menghubunginya lewat ponsel dari penjara. Kata Hasin, kalau lewat pemerintah sudah mentok, dia minta dicarikan orang pintar, agar Umar Said Bamusak, majikannya di Jeddah, luluh kemudian mencabut tuduhan dan tidak menuntut uang tebusan sebesar Rp 250 juta.

Selain Rabiya melakukan puasa Senin – Kamis, adik dan kakak kandung Hasin menemui sejumlah orang pintar di Banyuwangi, Jember dan Probolinggo meminta mantra. Lalu kiriman mantra itu dititipkan kepada famili yang berangkat sebagai calon jamaah haji ke Makkah dan yang keluarga lainnya yang menjadi TKI. Mantra itu ditebar di lingkungan rumah majikan Hasin.

Tetapi mantranya tidak manjur. Majikannya tetap minta uang tebusan Rp 250 juta. “Kami sudah tidak punya cara lain agar majikan anak saya luluh. Maka usaha dengan magic kami tempuh juga, tetapi tetap tidak mempan,” kata Rabiya.

Sambil menyeka air matanya yang menetes di kedua pipinya yang mulai keriput, Rabiya menuturkan, ia tidak tega kala melihat Ulfa (10), anak satu-satunya Hasin, yang kini duduk di bangku kelas VI, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Taman Sari, Palengaan.

Walau Ulfa ditinggal kedua orang tuanya menjadi TKI saat masih berumur 8 bulan, namun bocah itu sudah mengerti bahwa ayah ibunya kini ditahan di Arab Saudi. Tiap malam menjelang tidur, Ulfa mendekap foto ayah ibunya yang dikirim dari Jeddah.

Gubernur Jatim Soekarwo menyatakan siap menyediakan dana tebusan Rp 250 juta untuk menggagalkan ancaman hukuman potong tangan itu. ”Kalau diminta uang tebusan, kami siap menyediakan,” tegasnya, Selasa (21/6).

Menurut pria yang akrab disapa Pakde Karwo ini, meski uang tebusan ada, tapi upaya pembebasan dua warga Jatim itu harus dilakukan sesuai prosedur, yakni melalui Kemenlu dan Kedubes RI di Arab Saudi.

Tentang Maryudi

Saya adalah TKI , dan ingin berbuat sesuatu untuk negaraku INDONESIA
Pos ini dipublikasikan di Arab Saudi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s