Jumhur Menghindar Saat Didatangi Asah

SOLINDUN@KOMPAS.com — Asah, ibunda dari tenaga kerja wanita Karsih Binti Ocim, mengaku tak tahu-menahu mengenai keberadaan anaknya saat ini. Menurut Asah, anaknya berangkat ke Arab Saudi sejak tahun 1999.

Namun, kini, keluarga tak tahu bagaimana nasibnya. Sempat beredar kabar Karsih terancam hukuman pancung, di Riyadh, Arab Saudi tahun 2007. Ia didakwa meracuni anak majikannya.

“Karsih pengin pulang, enggak dipulangin, ditahan majikan. Terakhir kontak 2007 dituduh ngeracunin anak majikan. Karsih ditahan polisi 4 bulan. Karsih mau buru-buru kembali ke Tanah Air. Tapi sampai sekarang enggak ada informasi apa pun,” ujar Asah di Gedung DPR, Kamis (23/6/2011).

Usaha Asah menemukan putrinya terus dilakukan, bersama staf dari LSM APDSMI, Agus Purwantara SH, ia mendatangi beberapa lembaga pemerintah seperti BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia), Kemennakertrans dan Sekretariat Negara.

Namun, usaha berbuntut sia-sia. Mereka tak diterima sejumlah pejabat-pejabat terkait. Padahal Asah ingin tahu kebenaran apakah anaknya masih hidup atau telah dihukum pancung.

“Kami menembus BNP2TKI, maksud hati ketemu Pak Jumhur (Jumhur Hidayat, Kepala BNP2TKI), tapi kami tidak bisa ketemu alasannya sibuk. Dia seolah-olah menghindar, padahal sudah kami kejar di lift. Kata pegawainya sudah keluar dari pintu belakang. Setelah BNP2TKI kami diajak ke Sekretariat Negara, tidak masuk ke dalam karena alasan prosedur, Kemennakertrans waktu itu juga begitu semua, yang bisa masuk hanya teman dari LSM,” jelas Sekretaris Desa Pagadungan, tempat asal Karsih di Karawang, Sudarto, yang mendampingi Asah ke DPR.

Oleh karena itu, baik Asah, keluarganya, maupun Sudarto berharap dengan mendatangi Wakil Sekjen Partai Demokrat, Saan Mustopa dapat membantu menyuarakan usaha mereka kepada pemerintah yang selama ini tak acuh. Saan merupakan salah satu anggota legislatif dari daerah pemilihan Karawang.

Feeling kami insya Allah Karsih masih hidup. Tidak ada komunikasi sejak saat itu, saya kecewa. Kami inginnya warga kami bisa pulang ke Tanah Air,” ujar Sudarto.

Seperti yang diketahui, Karsih Binti Ocim merupakan TKW asal Dusun Pangaritan/ Wagirserut RT 10/RW 05, Desa Pagadungan, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Ia dikabarkan akan dihukum pancung tahun 2007.

Namun, KBRI di Riyadh, pada tahun 2008 menyatakan telah bertemu tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia bernama Karsih binti Ocim Parni yang sebelumnya dikatakan telah dihukum.

Berdasarkan release yang dikirimkan KBRI Riyadh saat itu, wanita yang lahir 13 Agustus 1968, asal Dusun Pangaritan, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang tersebut dalam keadaan sehat dan segar bugar. Tapi, keluarga belum sekali pun menerima informasi terkait keberadaan Karsih hingga saat ini.

Tentang Maryudi

Saya adalah TKI , dan ingin berbuat sesuatu untuk negaraku INDONESIA
Pos ini dipublikasikan di Arab Saudi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s