Desa yang Warga Perempuannya jadi TKW Semua.

Solindon@JPS.com, Dari jumlah itu, mereka me ngirimkan
devisa luar negeri ke Jatim (remittance) Rp
2,64 triliun. Angka itu jauh lebih besar
daripada rerata APBD 38 kota/kabupaten
se-Jatim yang ’’hanya’’ Rp 2 triliun.
Terlepas dari segala kesulitan, bahaya,
dan jeratan tipu daya banyak pihak, menjadi
TKI di luar negeri memang jauh lebih
menggiurkan ketimbang menjadi pembantu
rumah tangga.
Simak saja penuturan Sumarmi, warga
Desa Tanggul Turus, Besuki, Tulungagung.
Perempuan muda itu bekerja dua tahun di
Hongkong dan baru pulang tahun lalu. Mau
tahu, berapa uang yang dia bawa pulang?
Selain berhasil merenovasi rumahnya, dia
saat itu membawa uang hingga Rp 150 juta.
Sumarmi mengaku akan berangkat lagi.
’’Nunggu si kecil ini agak besar. Mungkin setahun
lagi,’’ katanya, menunjukkanmomongannya yang
baru berusia sebelas bulan. Sumarmi pulang ke
kampungnya hanya untuk menikah.
Desa Tanggul Turus, kampung halaman
Sumarmi, adalah potret desa yang wajahnya
berubah berkat warganya yang banyak menjadi
TKI di luar negeri. Pada awal 1990-an,
Desa Tanggul Turus adalah sebuah desa yang
sangat tertinggal. Kondisinya di bawah semua
parameter penghitungan klasifikasi
desa. Dengan 95 persen rumah penduduk
masih berupa gedek dan mayoritas warganya
bekerja menjadi buruh tani, Desa Tanggul
Turus masuk desa tertinggal.
Namun, begitu gelombang pengiriman TKI
perempuan terjadi (dan mula-mula ke Arab
Saudi), wajah desa itu berubah 180 derajat.
’’Sangat drastis meningkat,’’ kata Budi Santoso,
bayan (perangkat desa) Tanggul Turus
kepada Jawa Pos. Kini 95 persen rumah di
desa itu adalah rumah megah.
Kini Desa Tanggul Turus bisa jadi adalah
salah satu desa pertama yang rata-rata rumah
warganya mempunyai pemanas air untuk
mandi. Jalan desa juga diaspal. Mobil-mobil
seperti Kijang Innova, Honda CR-V, dan
Mercedes-Benz tak sulit dijumpai diparkir di
depan rumah-rumah warga desa tersebut.
Kalau dulu banyak yang menjadi buruh
tani, sekarang rata-rata mereka malah menjadi
tuan tanah. ’’Penduduk kami memang
rata-rata tengah memburu lahan. Bahkan,
banyak tanah di desa-desa sebelah yang dibeli
warga kami,’’ kata Budi, pria 48 tahun ini.
Padahal, harga tanah di kawasan tersebut
sudah tinggi. Dalam 15 tahun ini, harga tanah
di sana melonjak hingga 700 persen. ’’Kalau
dulu, satu ru (satuan ukuran tanah desa yang
setara dengan 1 x 14 meter) hanya sekitar Rp
700 ribu, sekarang harganya di atas Rp 5 juta,’’
tambah pria yang juga bekerja untuk sebuah
PJPTKI (perusahaan jasa pengerah tenaga
kerja Indonesia) sebagai koordinator PL
(pekerja lapangan) itu.
Dilihat dari sisi demografi, Desa Tanggul
Turus layak dijuluki desanya TKI. Bagaimana
tidak, di antara 2.700 penduduk
desa itu, 1.500 orang (semua perempuan)
menjadi TKI di luar negeri.
Karena itu, ketika berada di desa tersebut,
akan sangat sulit menemukan perempuan
usia produktif (18 tahun– 45 tahun). ’’Ya,
begini ini. Lebih banyak laki-laki daripada
perempuan,’’ kata Budi, kemudian tertawa.
Belum lagi pengiriman TKI ke luar negeri
adalah bisnis yang menggiurkan bagi orangorang
yang terlibat di dalamnya. Menjadi PL
(pekerja lapangan), misalnya. Tugasnya berkeliling
untuk mencari calon TKI (diprioritaskan
perempuan) yang akan dikirim ke luar negeri.
Jika berhasil mengirim TKI perempuan ke luar
negeri, seorang PL akan mendapat fee Rp 1,5
juta hingga Rp 2,5 juta. Karena menggiurkan,
kini jumlah PL juga kian banyak. Sementara
perempuan yang menjadi objek buruan si PL
kian jarang. ’’Sekarang ini mencari tiga calon TKI
dalam sebulan saja susahnya setengah mati,’’
kata Murtir Riyadi, seorang PL yang beralamat di
Dusun Purworejo, Sanan Kulon, Blitar.
Inilah yang kemudian melahirkan modus
menghalalkan berbagai cara. Yang paling
banyak terjadi adalah pemalsuan umur untuk
mengakali standar batasan usia yang
ditetapkan oleh negara tujuan. Modusnya
adalah PL ’’menembak’’ surat di kantor desa
atau kelurahan. Mulai surat keterangan/izin
suami dan kepala desa/lurah setempat.
Itu diakui pihak PJPTKI. ’’Memang, banyak
yang melakukan itu. Tapi, perusahaan kami
sangat tegas terhadap masalah tersebut,’’ kata
Wahyu Giatno, seorang koordinator PL di PT
Gunawan Sukses Abadi (GSA), salah satu PJPTKI.
Bila calon TKI ketahuan melakukan penipuan
tersebut, pihaknya tak segan-segan memulangkan
mereka dan kemudian menghitung
semua kerugian yang ada. Terhadap PL juga tak
kalah tegasnya. ’’Bisa jadi kami tak akan memakai
jasanya lagi,’’ tambahnya.
Modus kedua adalah mencari ’’suami beli’’.
Modus itu biasanya dilakukan calon TKI
perempuan di bawah umur. Oleh si PL, dia
dicarikan pria yang mau mengawininya.
Pernikahan pun dilangsungkan di KUA secara
sederhana. Setelah dokumen diperoleh,
dalam hitungan beberapa bulan ke depan, si
suami harus menceraikan istrinya. Dengan
status janda, si calon TKI perempuan itu bisa
mulus pergi ke luar negeri meski belum cukup
umur. Pria yang mau menjadi suami
beli itu mendapat imbalan cukup menggiurkan.
’’Saya dulu diberi sepeda motor,’’
kata Yadi (bukan nama sebenarnya), salah
seorang pria yang pernah menjadi ’’suami
beli’’ yang berasal dari Kecamatan Kedungwaru,
Tulungagung.
Praktik suami beli itu bisa ditemui di hampir
semua desa di sentra TKI tersebut. Tak hanya
di Tulungagung, tetapi juga Blitar, Trenggalek,
dan Kabupaten Malang. Bahkan, suami beli
bukan hanya menjadi jaminan meraih tiket ke
luar negeri, tapi juga untul menutupi aib. Tak
sedikit para TKI perempuan yang ’’salah bergaul’’,
hamil di luar negeri, dan kemudian
mencari suami beli untuk pulang dinikahi.
Kemudian, mereka cerai lagi untuk mendapat
status anak. (ano/c4/kum)

Tentang Maryudi

Saya adalah TKI , dan ingin berbuat sesuatu untuk negaraku INDONESIA
Pos ini dipublikasikan di Dalam Negeri. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s