Kisah Sedih TKW Yang Di Tipu Suaminya.

Solindon@JPS.com, URUTANNYA seperti ini: Yang
menjadi ujung tombak perekrutan
para calon TKI perempuan itu
adalah PL (pekerja lapangan).
Merekalah yang bertugas mencari
perempuan di pelosok-pelosok
untuk direkrut menjadi TKI.
Para PL tersebut sungguh sangat
agresif karena bayaran mereka
lumayan. Yakni, Rp 2 juta per
TKI. PL nanti juga menjadi
penghubung antara keluarga
dan pihak PJTKI.
Setelah direkrut PL, calon TKI
perempuan diserahkan kepada
sponsor, yakni orang yang
menjadi ”pengepul” sekaligus
merupakan atasan sejumlah
PL. Sponsorlah yang kemudian
mengirim para calon TKI perempuan
ke PJTKI. Di ”PT” –demikian
para PL dan sponsor menyebut
PJTKI– itulah ratusan TKI
perempuan kemudian ditraining.
”Yang utama soal penguasaan
bahasa dan pengenal an
alat elektronik, seperti vacuum
cleaner. Banyak di antara TKI yang
bahkan baru kali pertama melihat
vacuum cleaner,” ucap Wahyu
Giarto, sponsor sebuah PJTKI di
Surabaya asal Tulungagung.
Pelatihan tersebut dilaksanakan
di penampungan PJTKI. Lama
penampungan dua hingga tiga
bulan. Sekalian juga menunggu
pengurusan paspor dan visa
serta penyiapan kontrak kerja
yang lamanya dua hingga tiga
bulan. Setelah visa keluar, para
calon TKI perempuan itu diberangka
tkan ke luar negeri (dan diberi
uang saku). Lantas, mereka
dijemput pihak agency (lembaga
penyalur tenaga kerja di negara
tujuan) serta diantarkan kepada
majikan. Di negara tujuan, ratarata
langsung sudah ada kontrak
kerja yang biasanya berdurasi
dua tahun.
Lantas, di mana rentannya?
Kerentanan pertama terjadi di
tingkat PL. Rata-rata calon TKI
perempuan yang akan berangkat
menerima uang saku sekitar Rp
2 juta. Uang itu biasanya diserahkan
kepada calon TKI melalui PL.
Kerap PL menyunat uang tersebut
hingga tinggal Rp 500 ribu.
Belum lagi, banyak kasus calon
TKI ditipu dengan cara dimintai
uang beberapa kali. Alasannya,
uang itu digunakan untuk biaya
administrasi dan sebagainya. Juga
tak jarang para TKI telanjur
mengeluarkan duit, tetapi ternyata
PJTKI-nya awu-awu. Bukan berangkat,
mereka malah harus tekor.
Ketika TKI perempuan berada
di luar negeri, banyak juga faktor
yang bisa mengakibatkannya
gagal. Yang pertama adalah faktor
keluarga. Misalnya, yang dialami
Ngadijah asal Tulungagung. Pada
2008, dia berangkat ke Hongkong.
Suaminya kemudian minta uang
dengan dalih membangun rumah.
Tiap bulan setelah Ngadijah
mengirim uang, sang suami
mengirim foto sebuah rumah
yang dibangun. Tepat dua tahun
kemudian, Ngadijah pulang.
Begitu pulang, Ngadijah nyaris
mati kena serangan jantung.
Betapa tidak, suaminya sudah
kabur, sementara rumahnya masih
reyot. ”Foto-foto griyane tanggi
(foto-foto yang dikirim itu, rupanya,
foto rumah tetangga yang sedang
dibangun, Red),” kata Murni, adik
Ngadijah, dengan nada geram
ketika ditemui Jawa Pos sehari
setelah Lebaran lalu. Ngadijah
langsung menggugat cerai
suaminya dan awal 2011 kembali
berangkat ke Hongkong.
Sementara itu, faktor kedua
adalah kondisi di luar negeri.
Kalau itu, sangat banyak. Mulai
terseret gaya hidup mewah (beli
ponsel mewah-mewah), berpacaran
dengan penipu, hingga
bertemu dengan majikan yang
buruk. ”Apalagi, perlindungan
pemerintah sangat buruk di sana,”
kata Koordinator Gerakan Hati
Indonesia Yulyani. Tak jauh-jauh,
dia kemudian mencontohkan
kasus pemenggalan kepala Ruyati
di Arab Saudi. ”Pemerintah baru
tahu setelah dieksekusi,” tambahnya.
(ano/c11/kum)

Tentang Maryudi

Saya adalah TKI , dan ingin berbuat sesuatu untuk negaraku INDONESIA
Pos ini dipublikasikan di Hongkong. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s