Setelah Pulang, Lalu?

Solindon@kompas.com, Pemerintah baru saja memulangkan lagi 1.277 tenaga kerja Indonesia bermasalah dari Arab Saudi menggunakan empat pesawat haji. Tenaga kerja Indonesia, yang bekerja tanpa izin resmi, dan bercampur dengan jemaah umrah, yang melanggar izin keimigrasian, diantar ke kampung halaman mereka atas biaya pemerintah.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Jeddah, Arab Saudi, mencatat, pemerintah telah memulangkan 17.254 TKI bermasalah sejak Januari sampai Oktober 2011. Dua gelombang pemulangan massal adalah pemulangan menggunakan KM Labobar milik PT Pelni (Persero) yang mengangkut 2.349 orang selain pemulangan dengan empat pesawat haji ini.

Setelah pemulangan ini, selanjutnya bagaimana? Pekerjaan rumah pemerintah menangani migrasi pekerja tak akan pernah selesai sepanjang belum ada upaya konkret menciptakan lapangan kerja di dalam negeri. Pemerintah daerah pun harus menyadari mereka turut bertanggung jawab memperluas kesempatan kerja yang menyejahterakan agar rakyat tidak tergiur bekerja ke luar negeri.

Arab Saudi adalah negara tujuan kedua terbesar bagi tenaga kerja Indonesia setelah Malaysia. Sedikitnya 1 juta TKI bekerja di sana dan mengirim 2,5 miliar dollar AS (Rp 22 triliun) per tahun yang menggerakkan perekonomian riil di daerah.

Keterpaksaan

Mereka membangun rumah permanen, membeli kendaraan bermotor, ternak, sawah, atau berdagang di kampung yang menjadi simbol keberhasilan bekerja di luar negeri. Namun, banyak juga TKI pulang bercucuran air mata karena menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia. Dua sisi koin yang sulit dipisahkan.

Beberapa TKI yang tengah didata di Gedung Pendataan Kepulangan TKI Selapajang, Kota Tangerang, Banten, Selasa (1/11), mengungkapkan, mereka terpaksa bekerja ke luar negeri untuk mengubah nasib. Mereka, yang berpendidikan sekolah dasar ke bawah, kesulitan bekerja di dalam negeri. Ada yang menjadi buruh tani di lahan orang lain, tetapi hasilnya tidak sepadan dengan beratnya beban.

Bekerja ke luar negeri menjadi pilihan sulit dalam keterpaksaan. Seandainya mereka bisa bekerja dengan upah yang menyejahterakan di dalam negeri tentu mereka tak akan tergiur terbang ke luar negeri sampai melanggar izin keimigrasian.

Sudah saatnya pemerintah mengubah paradigma pengelolaan migrasi pekerja. Jangan sekadar mengejar penempatan demi aliran remitansi semata! TKI bukan ”sampah” yang merusak citra Indonesia di luar negeri. Mereka harus dibela sepenuh hati. Siapkan lapangan kerja di dalam negeri kalau tak mampu melindungi TKI di luar negeri! (Hamzirwan)

Tentang Maryudi

Saya adalah TKI , dan ingin berbuat sesuatu untuk negaraku INDONESIA
Pos ini dipublikasikan di Arab Saudi, Dalam Negeri. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s