Duka Keluarga Tarsini

Solindon@Kompas.com , Ancaman hukuman mati kembali menimpa tenaga kerja Indonesia. Kali ini, ancaman hukuman mati dialami Tarsini (21), TKI asal RT 4 RW 5 Desa Karangjunti, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Sejak awal 2011, ia ditahan di Penjara Dammam, Provinsi Timur, Arab Saudi, karena dituduh meracuni anak majikannya hingga tewas.

Hingga kini, Tarsini masih menghadapi proses pengadilan di negara tersebut. Keluarga sangat berharap Pemerintah Indonesia bisa membantu membebaskan Tarsini sehingga ia terbebas dari ancaman hukuman mati.

Seperti halnya TKI lain, Tarsini berangkat ke luar negeri dengan harapan bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya yang miskin meskipun hanya berbekal ijazah sekolah dasar. Ayah dan ibunya, Tamir (67) dan Karseh (50), hanya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tidak menentu.

Mereka tinggal di rumah semipermanen berukuran 5 meter x 7 meter dengan dinding tembok dan anyaman bambu serta lantai dari semen plester. Rumah yang terletak di pinggir lintasan kereta api itu dihuni empat keluarga, yaitu keluarga Tamir serta keluarga tiga kakak Tarsini, yakni Tasriah (35), Darmini (30), dan Saryi (25).

Menurut Darmini, saat ditemui di rumahnya, Senin (21/11), adiknya berangkat ke Arab Saudi pada Januari 2009 melalui PT Putera Al Uwaini. Anak keempat dari empat bersaudara tersebut bekerja pada keluarga Sami Saad Fahad Al Badai dan Jinan di Dammam.

Empat bulan pertama bekerja di luar negeri, adiknya masih berkirim kabar kepada keluarga melalui telepon. Saat itu, Tarsini mengaku kepada kakaknya, ia tidak diperbolehkan meminta gaji kepada majikan.

Pada bulan ketujuh, adiknya kembali memberi kabar, bahwa ia masih tetap belum digaji oleh majikannya. Bahkan, Tarsini mengaku sempat ditampar dan dikurung oleh majikannya karena ngotot meminta gaji. Selanjutnya, keluarga putus kontak dengan Tarsini.

Darmini menuturkan, seharusnya sesuai kontrak kerja, adiknya sudah kembali ke Indonesia pada Januari 2011. Namun, pada pertengahan 2011, keluarga justru mendapat kabar melalui teman Tarsini yang mengatakan bahwa adiknya sedang menghadapi masalah hukum.

Tarsini dituduh membunuh anak majikannya dengan membubuhkan racun di makanan. Padahal, berdasarkan pengakuan adiknya, ia tidak melakukannya. Tarsini hanya disuruh anak majikan dari istri pertama untuk menambahkan bubuk ke dalam makanan dengan tujuan agar disayang majikan.

”Adik saya mau karena dia berharap disayang majikan dan mendapat gaji. Soalnya, sudah dua tahun kurang dua bulan belum digaji,” kata Darmini yang mengaku terakhir melakukan kontak dengan adiknya pada Oktober 2011.

Kini, keluarga Tarsini hanya mampu berdoa dan berharap dalam kesedihan. Bahkan, akibat memikirkan nasib anaknya, Karseh beberapa kali mencoba bunuh diri dengan hendak menabrakkan diri pada kereta api yang melintas di depan rumahnya.

”Anak saya berangkat ke luar negeri karena berharap ibunya bisa makan kenyang. Tetapi, sekarang, kok, malah mendapat masalah,” kata Karseh sambil menyeka air mata. Menurut dia, selama Tarsini berada di Arab Saudi, ia sama sekali belum mendapatkan kiriman uang dari anaknya tersebut.

Justru saat berangkat ke Arab Saudi, Karseh harus mengeluarkan uang Rp 3 juta untuk kebutuhan selama di penampungan dan membeli pakaian. Sejak mengetahui anaknya bermasalah, Karseh juga terus mengeluarkan uang untuk mengupayakan kepulangan Tarsini.

Selain meminta bantuan pemerintah, ia juga rutin mengadakan doa bersama di rumahnya setiap sore. Untuk berbagai kebutuhan yang dikeluarkan, Karseh mengaku telah menanggung utang hingga jutaan rupiah.

Ia juga telah menjual sawahnya dengan sistem sewa sehingga saat ini tidak lagi memiliki lahan untuk diolah. Sepuluh kambingnya juga sudah habis terjual untuk mengupayakan kepulangan Tarsini. ”Kalau rumah ini laku, kami juga rela menjualnya,” kata ayah Tarsini, Tamir.

Kepala Desa Karangjunti Raudloh mengatakan, saat ini sekitar 50 warganya memang bekerja di luar negeri sebagai TKI, termasuk Tarsini. ”Bulan September hingga November saja ada 14 orang yang meminta izin,” katanya.

Ia juga berharap pemerintah bisa membantu membebaskan Tarsini agar terhindar dari hukuman mati. Selama ini, warganya nekat berangkat ke luar negeri karena alasan ekonomi.

Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kabupaten Brebes Amin Budi Raharjo mengatakan, Pemerintah Kabupaten Brebes telah meminta bantuan pemerintah pusat untuk membebaskan Tarsini. Menurut dia, Kementerian Luar Negeri telah menyediakan pengacara untuk membela Tarsini.

Kasus Tarsini, lanjut Amin, merupakan kasus pertama yang dialami TKI asal Brebes. Selain kasus hukum tersebut, terdapat beberapa kasus lain yang dialami TKI asal Brebes.

Tahun ini tercatat 34 TKI bermasalah, antara lain gaji tidak dibayarkan dan dianiaya majikan.(siWI nurbiajanti)

Tentang Maryudi

Saya adalah TKI , dan ingin berbuat sesuatu untuk negaraku INDONESIA
Pos ini dipublikasikan di Arab Saudi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s