Hong Kong Negeri Seribu Impian TKW: Dianiaya Majikan Sampai Koma di ICU

Solindun@Kompas.com , Tiba di Airport Hong Kong Jumat 23 September 2011, dijemput oleh dua relawan Dompet Dhuafa Hong Kong, saya dan dua awak film dokumenter dibawa ke tempat inap di kawasan Causeway Bay.

Subuh seperti sebelumhya, setahun yang lalu, saya juga langsung ikut kegiatan taklim yang diberi nama Bidadari Fajar.

Setelah sholat subuh berjamaah dan mendengar tausyiah dari Ustad Muadz yang berasal dari Kaltim, saya diberi waktu untuk sekadar menjelaskan tujuan kali ini ke negeri beton. Kemudian saya meminta teman-teman yang sedang bermasalah, maksudnya tertimpa masalah, jika ingin curhatan dipersilakan.

Nah, ini Nur curhatannya sbb;

“Aku berasal dari kampung kecil di Jawa Tengah. Diberangkatkan kerja di Hong Kong 2009. Setahun kerja di majikan, awalnya berjalan baik saja, sampai majikan laki-laki menganggur dan banyak berada di rumah. Sementara istrinya kerja, majikan laki mulai sering marah-marah, temperamental bahkan akhirnya ringan tangan,” ujarnya mengawali curhatannya.

Jika ada yang dianggap salah, gajinya dipotong, demikian terus hingga menurut majikan dia sudah punya utang totalnya jika dikurskan; 17 juta. Jika sudah kumat penyakit menganiaya, majikan menyeretnya ke kamar mandi dan memukuli serta menendangnya. Acapkali Nur disuruh meletakkan kedua telapak tangan di ubin, kemudian majikan memukulinya keras-keras dengan benda apa saja yang tersambar oleh tangannya.

“Aku sampai bisa merasakan dan mendengar ada bunyi; kreeeek! Begitu bunyi yang menandakan ada yang remuk di dalam telapak tanganku.”

Beberapa kali majikan memukuli wajahnya dan kupingnya, sehingga pendengarannya mengalami gangguan, cacat permanen. Jika sudah dianggap melakukan kesalahan, Nur bukan saja dianiaya, makannya pun tidak diberi.

Waktu untuk pergi ke kamar mandi dijatah hanya dua kali, dan itu pun ditunggui majikan, kalau diangap agak lama saja langsung digedor-gedor. Acapkali Nur merasa tak tahan lagi untuk buang air besar, terpaksa dia mengeluarkan kotorannya di plastik.

“Pendeknya aku tak pernah tahu ini hari apa, jam berapa, waktu terus saja berjalan sangat pelaaaaan. Semua waktuku diisi hanya untuk; kerja, kerja, kerja!”

“Apakah majikan perempuan tahu kekerasan ini?”

“Ya, tahulah. Satu kali, ketika majikan laki sedang memukuliku, majikan perempuan berteriak melarangnya. Suaminya membentak dan menyuruhnya masuk kamar.”

Demikian terus berjalan, tubuh Nur menyusut drastis, kesehatannya anjlok. Puncaknya adalah ketika majikan kembali memukuli wajah dan kena kuping, Januari 2011. Tiba-tiba ada darah mengucur dari kuping, Nur pingsan.

Ketika siuman, dia mendapati dirinya berada di ruang ICU dalam kondisi sangat mengenaskan. Semua tubuhnya terbalut, kaki, tangan serasa remuk.

Nur berada dalam kondisi yang disebut koma selama 4 bulan!

April 2011, berita tentang dirinya merebak juga di koran-koran lokal. Hanya banyak yang dipelintir. Umpamanya tentang foto bersama agen, di situ dituliskan bahwa agen sangat baik, mengurusi permasalahannya, Nur menanda tangani surat ucapan terima kasih untuk agen.

Atau bahwa majikan berkunjung, menangis-nangis menyatakan penyesalan dan mengatakan semua keluarga sangat mengasihi Nur. Bagaimana mungkin menganiaya begitu rupa.

Ketika dalam kondisi parah begitu, Nur sering juga dikunjungi pihak KJRI dan ditanya:”Sekarang Nur maunya apa? Mau melanjutkan kerja apa pulang ke Indonesia?”

Lama Nur terdiam, hingga otaknya mulai konek dan berkata dengan terbata-bata.”Bagaimana aku mau kerja atau pulang ke Indonesia? Nah, kondisiku saja masih seperti begini, bergerak pun susah. Berat badan hanya 23 kilo!”

Nur tahu dari pengalaman teman-teman BMI, jika bermaslaah pihak KJRI biasanya hanya mengusahakan; tiket dan dipulangkan!

“Nah, bagaimana dengan hak-hak yang seharusnya aku dapatkan?” tanyanya terdengar mengapung.

Nur tak bisa membayangkan, seandainya dirinya dipulangkan, ya, hanya dipulangkan, kemudian langsung dimasukkan ke rumah sakit pemerintah. Entah bagaimana nasibnya, sungguh tak sanggup sekadar untuk membayangkannya sekalipun. Dia tahu juga bagaimana pelayanan di rumah sakit pemerintah, dan bagaimana sulitnya untuk mendapatkan pengobatan gratis.

Setelah kondisinya mulai membaik, Nur dinyatakan boleh pulang, akhirnya memutuskan untuk menghubungi Dompet Dhuafa. Dia mengetahuinya dari seorang teman. Maka terhitung sejak April 2011, Nur tinggal di shelter DD di kawasan Causeway Bay.

“Sekarang kasusnya sedang ditangani pengadilan. Mantan majikan kejam itu sampai menyewa 3 pengacara. Aku tidak mampu menyewa pengacara. Namun, ada pengacara bule yang berkenan menjadi pengacaraku secara gratis,” tuturnya dengan mata menewarang.

Usianya baru 23 tahun, tetapi gurat-gurat kedewasaan tampak jelas, menyembunyikan segala nestapa yang harus dilakoninya.

Kondisi Nur kini; fisiknya telah membaik, tapi pendengarannya masih cacat, luka jiwa; traumatis!

Nur tidak tahu kapan kasusnya selesai, dan apakah dirinya akan beroleh keadilan? Hanya waktu yang akan menjawab. (Causeway Bay-Hong Kong)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s